Epilog
Cerita panjang pertama yang berhasil diselesaikan...
Ya meskipun makan waktu dua tahun .
Akan kangen sekali dengan Kian, Kian Mahisa Campaka.
I owe you so much, Kian.
***
Untuk Charlene yang selalu penasaran,
konvensional, dan cerewet,
Kabarku
di sini baik—hampir tidak tahu kalau ada orang yang masih berkomunikasi lewat
surat, padahal teknologi sudah semakin canggih dan orang-orang lebih menyukai
penggunaan surel ketimbang surat—yang lama sekali sampai pada penerimanya ini.
Namun terima kasih sudah mengingatkanku kalau kita sudah lama tidak saling
bertukar sapa dengan cara yang sangat konvensional ini. Surat yang ditulis tangan
sangat klasik, dan tentunya lebih tulus daripada surel yang biasa kutulis untuk
urusan kerja.
Charlene,
aku percaya pekerjaanmu juga pasti menyenangkan kalau kau menikmatinya. Di sini
gila. Aku sekarang menjadi direktur eksekutif di perusahaan yang kuimpi-impikan
sejak aku masih jadi freshman di Cambridge. Kalau ada kata lain yang bisa
melukiskan perasaanku, itu sudah pasti ‘bahagia’ karena aku mendapatkan posisi
ini atas usaha dan kerja kerasku, bukan karena nama keluargaku.
Selamat
atas kehamilan anak pertamamu, Charlene. Aku yakin suamimu akan stress setengah
mati menghadapi kebawelanmu yang pasti akan tambah menjadi-jadi. Karena aku
tidak mau kau menerima surat ini setelah kau melahirkan, maka aku memutuskan
untuk menggunakan jasa ekspedisi paling cepat, meskipun ongkosnya dari
Washington DC ke London, menurut istriku, sangat tidak kira-kira.
Seharusnya
kau mengunjungiku di sini. Terakhir kali kita bertemu di London, Tatia masih
mengandung anak kami yang pertama, sedangkan sekarang Theo sudah berusia tiga
tahun. Sebentar lagi ia juga akan memiliki seorang adik perempuan. Usia
kehamilannya sudah masuk tujuh bulan dan suasana hatinya sedang buruk-buruknya.
Soal
keluarga kami di Indonesia. Well, Mamaku masih belum bisa menerima pernikahan
kami, bahkan sampai sekarang. Bulan lalu ibuku baru datang kemari, kupikir ia
sudah akan memberikan restunya, namun ternyata, ia menolak bertemu muka
denganku dan Tatia. Dia hanya ingin bertemu dengan cucu laki-lakinya yang tentu
saja akhirnya kami perbolehkan dengan kekhawatiran kalau Theo akan diculik
seperti di drama-drama.
Tapi
syukurlah hal itu tidak terjadi. Papa Hary lebih pemaaf. Baru dua bulan yang
lalu ia menyempatkan diri ke Washington, untuk bertemu dengan kami bertiga.
Kami berbincang banyak, seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Sedangkan
hubungan kami dengan Mamaku memang sulit untuk kembali seperti sedia kala.
Ibu
dan ayah mertuaku sekarang sudah menerima kami bertiga dengan tangan terbuka. Bulan
depan mereka akan jalan-jalan ke sini. Mereka juga menyuruh kami untuk kembali
ke Indonesia kapan-kapan, agar Theo bisa mengenal tempat kelahiran ibu dan
ayahnya. Kami masih mencari waktu untuk itu, karena jadwalku sedang
padat-padatnya.
Oh,
aku tidak menyangka kau juga masih mengingat kakek yang mengunjungiku setiap
liburan musim panas. Nama Beliau adalah Opa Bastiaan. Dia masih di Australia
sekarang bersama tanteku. Puji Tuhan, ia masih sehat di umurnya yang menginjak
sembilan puluh empat tahun walaupun sekarang tidak lagi bisa berpergian jarak
jauh. Setiap ada liburan yang cukup panjang, aku selalu menyempatkan diri untuk
pergi ke Sydney untuk mengunjunginya. Dia begitu baik. Dia masih menerimaku,
dan menyayangiku seperti cucu kandungnya sendiri.
Dan
soal sepupuku yang dulu sering kukunjungi di Paris semasa kita kuliah, kabarnya
juga baik. Emily dan suami sudah memiliki seorang anak perempuan, yang gaya
berpakaiannya sebelas-dua belas dengan ibunya. Aku melihatnya seperti kapstak
berjalan, namun kurasa Emily memang terobsesi menjadikan anak itu sebagai the
next Paris Hilton, karena ibunya tidak kesampaian menjadi artis.
Untuk
menutup surat ini, aku akan berbicara sesuatu soal pencarianku dalam hidup. Kau
benar saat berkata kalau aku sudah mendapatkan semua yang kubutuhkan, bahkan
satu-satunya yang kuinginkan juga selalu berada di sampingku saat aku
terbangun.
Dan
kau tahu, Charlene, aku adalah salah satu dari orang yang sangat beruntung
karena sudah bisa menemukan rumah, yang bukan sekedar tempat tinggal. Tatiana
membuat semua tempat menjadi rumah bagiku, karena bersamanya aku selalu merasa
nyaman dan tidak ada lagi tempat yang paling tepat bagiku selain bersamanya.
Dia
bawel sepertimu. Dia menyebalkan. Dia pelit sekali. Dia juga tidak mau kalah.
Namun
tanpanya, tidak akan ada aku yang sedang menulis kepadamu ini.
Dan
aku tidak bisa memiliki gambaran diriku yang lebih beruntung daripada diriku
yang sekarang ini.
Washington DC, 26th
September 2019
Best Regards,
Kian Mahisa Campaka
Comments
Post a Comment